Program dari Lauhul Mahfudz
Perspektif Wahdatul Wujud
Kawanku, Kadang ada program atau sugesti angin segar bumi, tiupan lembut berbisik, agar saling membenci, saling beradu di ring bumi.
Angin segar itu berupa udara, bias dari mulut ke mulut, tercipta lah sebuah benih, misal saya di Wahdatul Wujud, angin segar ini tak mempengaruhi saya, saya juga tak perduli itu.
Benih ini tertanam dalam diri kita bernama manusia, jika ada yang angin segar ini, menunjukkan saya orang ini dan itu, orang tak benar, maka benih ini akan menyatu dalam program diri mu.
✅💚 Itu lah mengapa, dalam universe saya, program saya bernama, cinta murni, cinta tanpa syarat, seperti ala islami Nur bismillahirrahmanirrahim itu sendiri, dunia mengenal ada Wahdatul Wujud, ada juga manunggal Kawulo Gusti, dan batasan diri saya hanya makhluk bernama manusia.
Saya juga, melihat nur ruh, muasal diri, penglihatan saya hanya cinta, kasih, sayang dalam diri setiap makhluk, lintas universe agama yang telah ada.
🌃✅ Banyak pengalaman luar biasa dari mistik jati diri, tapi apakah mampu di cerna, di terjemahkan mau pun di tafsirkan, oleh sesama, itu pun saya tak tahu pasti.
Karena saya bisa salah, di perspektif dimensi yang berbeda. Contoh sederhana, saya memuji diri saya sendiri. Padahal saya hanya memuji kebesaran Tuhan,ada pada tubuh jasad saya sendiri, hingga memuji diri mu cantik maupun ganteng, fokus inti saya ke tuhan, juga termasuk cara saya menghargai tuhan saya, cara saya berterima kasih nun yang paling dalam, cara saya beretika pada Allah.
Lalu, bagaimana, jika saya memuji diri mu, saya diam-diam nurani,hati, kesadaran,bertasbih menyebut nama Allah. Siapa yang tahu,juga siapa yang menduga. Masih terlihat salah kah, diri saya ini. Dari perspektif dimensi lain lagi.
🌃✅
Sejauh ini, benarkah kita sudah menghargai tuhan.
Benarkah kita sudah beretika pada tuhan.
Benarkah selama ini kita sudah berterima kasih pada Tuhan.
Benarkah benih program yang berhembus di angin bumi itu masuk ke kita, memang sudah benar, baik itu benih program kejahatan, seperti saling benci, padahal asli nya, original akar dari alam dimensi Lauhul Mahfudz tidak lah begitu.
Tapi jika itu hanya, permainan dimensi dari alam syetan, ad dhukon, lalu bagaimana, menurut mu.
..
Banyak hal yang belum sampai di ranah jiwa, dan ranah hati kita, tuk menafsirkan dan menterjemahkan seseorang. Jika alam ranah seseorang dimensi nya berbeda dengan kita, bisa jadi selama ini kita lah yang salah.
Kadang, orang lain mengenal diri nya atau alami puncak bermakrifatullah, hingga puncak beragama, kita masih sibuk mengenal orang lain, sibuk beradu di ranah fikiran, hingga masih beradu di ranah self talk, inner voice.
Faktanya, diri kita memang masih belum berdamai sama diri sendiri, belum self love.
Memanajement emosional kadang, malah ribet.
🌃✅
Ad-dhukon, itu variasi, bahasanya indah dari Alquran, yang terkena itu angin segar yang berkabut, kabut itu, bisa apa yang saya sebutkan di atas, untuk itu ada istilah atau solusi nya seperti Takziyatun Nafs, Dzikir, Kontemplasi dll, sadar sesadar nya diri, untuk menyucikan kabut yang melanda rongga dada.
Kabut awan hitam, noda-noda hitam yang melanda hati,qalbu, inti hati, iri, ego gelap, nafsu gelap hingga lain nya, dengki, hasud, ini lah ad-dhukon, kegelapan yang merayap di langit hati.
💚 Bahasa zaman kini, di sebut dogma, manusia lain mempengaruhi fikiran kita sendiri, agar saling membenci, benci ini awan hitam, benih ini tertanam di jasad, kita di gerakkan oleh program benih ini, adu domba, di ring bumi.
Seumpama dari kitab langit, saya sebenarnya di kambing hitamkam, di buat bersalah, padahal saya tak ada salah. Saya kembali ke inti diri saya, ke akar kitab alam semesta, ini hanya misal.
Wahdatul Wujud, manunggal Kawulo Gusti itu menang ekstrim, berbeda dimension dari yang lain.
Seumpama lagi, mau orang lain ngeframe diri mu buruk, di depan saya, saya menggunakan perspektif dimensi yang tinggi, dari perspektif inti diri, dll nya.
Program awal saya adalah kesucian ruh, kembali ke jati diri saya. Inilah pengalaman di alam bumi, ada program benih alam semesta di kitab langit, Lauhul Mahfudz. Cari akar nya langsung ke sana hanya dengan kesadaran tertinggi, seperti higher Self, untuk tersambung koneksi ke alam atas.
💚Solusi nya, sadari diri kita ini( yang paling sadar) , jika dogma, bisikan angin lembut bumi, yang di kenal ad dhukon Merajai hati kita, ingat lah tuhan, yakni kembali ke jati diri, bila perlu menangis ke Allah, ( kalau saya sering menangis ke tuhan, mau di bilang aneh, alai, itu untuk saya sendiri, bukan untuk orang lain juga.
Maka insyaallah, program lama yang tertanam di hati, bisa di angkat, yakni keluar.
Lalu, masuk lah program baru.( Contoh nya saya bisa menulis, begini ( program saya dulu acak,ada program trauma serta luka bathin Ekstrim). Sekarang saya juga beralih di program Jati diri saya. Program ini juga sambung ke kitab alam semesta atau kitab langit juga.
Komentar
Posting Komentar