Jati Diri, hingga Aura Spiritual itu ada manis-manisnya kek saiya🤣
Kalimat di atas contoh frame fikiran, tapi saya branding ke Allah, seperti tulisan saya banyak ke Allah, budak cinta ke Allah,bucin. Atau seperti buku Sabda qalbu saya,itu Branding saya ke Allah.
Ada personal branding,self branding, branding ke Allah, dll. saya branding ke Allah, untuk diri saya, jati diri saya.
Jadi, bisa jadi kamu masih belibet dengan ranah isi fikiran mu, perspektif mu bisa beda.
Ranah fikiran itu,banyak aliran,jika belum selesai berdamai di ranah fikiran,akan stuck atau terjebak di sini bertahun-tahun lama nya, analisa saja diri sendiri. Mau fase baligh,remaja,dewasa,menua, itu pengalaman hidup kita perindividual.
Bisa jadi kamu terjebak di ranah kitab-kitab yang ada, seperti ranah fikiran, lupa salam sama diri sendiri,lupa mengenal bermakrifat dengan wujud asli diri, sifat buas diri,dll.
Rasa sadar untuk ke tuhan,ada cahaya berbagai hidayah,arti cahaya hidayah itu lebih dari satu.
Meskipun begitu, ketika saya di inti jati diri, saya senang melihat ranah fikiran saya, melihat kitab-kitab kuno dll, karena jadi diri itu wilayah nol,kosong,tak ada sifat, menjudge,apa sombong arogan dll.
Komentar
Posting Komentar